Pencarian

Laba Pegadaian Tembus Rp 6,59 Triliun hingga Juni 2026, PNM dan Bank Raya Justru Tertekan

Jumat, 31 Juli 2026 • 13:46:31 WIB
Laba Pegadaian Tembus Rp 6,59 Triliun hingga Juni 2026, PNM dan Bank Raya Justru Tertekan
Petugas menunjukkan emas batangan di gerai Pegadaian, seiring laba perusahaan tercatat Rp 6,59 triliun pada semester pertama 2026.

JAWA BARAT — Lonjakan laba Pegadaian tidak lepas dari derasnya permintaan emas sepanjang paruh pertama tahun ini. Pendapatan usaha perusahaan pelat merah ini melesat 79,2% secara tahunan menjadi Rp 67,26 triliun, dengan penjualan emas menyumbang porsi terbesar mencapai Rp 48,23 triliun—tumbuh 93,79%.

Selain emas, lini bisnis gadai konvensional juga ikut mendorong kinerja. Pendapatan dari sewa modal dan administrasi tercatat Rp 18,4 triliun, naik 50,08% dibanding tahun lalu.

Pertumbuhan bisnis ini ikut mengerek total aset Pegadaian menjadi Rp 186,33 triliun. Angka tersebut meningkat 51,43% secara tahunan, selaras dengan penyaluran pinjaman yang melonjak 52,76% menjadi Rp 155,08 triliun.

PNM Tertekan, Pendapatan Jasa Konsultasi Justru Menanjak

Nasib berbeda dialami PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Hingga Juni 2026, laba bersih PNM turun 32,47% menjadi Rp 595,07 miliar. Penyebab utamanya adalah pendapatan bunga dan syariah bersih yang terkoreksi 5,3% menjadi Rp 6,03 triliun.

Pendapatan dari jasa giro, dividen, dan bunga deposito berjangka juga jeblok 48,68% menjadi hanya Rp 17,67 miliar. Meski porsinya kecil, ada secercah harapan dari lini bisnis baru: pendapatan jasa konsultasi manajemen tumbuh 86,91% menjadi Rp 40,23 miliar, dan pendapatan dari kegiatan manajer investasi naik 19,9% menjadi Rp 23,27 miliar.

Secara fundamental, aset PNM masih tumbuh 2,7% menjadi Rp 57,57 triliun. Pertumbuhan ini ditopang nilai pinjaman bersih yang naik tipis 2% menjadi Rp 46,46 triliun.

Bank Raya: Kredit Digital Tumbuh, tapi Beban Menggerus Laba

PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mencatat laba bersih hanya Rp 12,01 miliar pada semester pertama 2026. Realisasi ini jauh merosot dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 32,93 miliar.

Padahal, bisnis inti bank digital ini menunjukkan perbaikan. Penyaluran kredit digital tumbuh 22,6% menjadi Rp 16,46 triliun, dengan outstanding kredit digital mencapai Rp 3,17 triliun. Pendapatan bunga bersih pun naik 16,99% menjadi Rp 390,38 miliar.

Namun, laba tergerus oleh kenaikan beban operasional yang signifikan. Beban pencadangan (CKPN) melonjak 21,8% menjadi Rp 99,9 miliar, sementara beban tenaga kerja naik 17,2% menjadi Rp 170,76 miliar. Beban promosi bahkan melesat 67,41% menjadi Rp 48,98 miliar, membuat total beban operasional membengkak 27,57% menjadi Rp 381,17 miliar.

Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia, menegaskan pihaknya tetap fokus pada pertumbuhan jangka panjang. "Melalui berbagai inovasi layanan dan penguatan ekosistem digital, kami terus mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat sekaligus menghadirkan pengalaman perbankan yang semakin mudah, aman, dan relevan bagi masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026).

Kinerja yang beragam ini menggambarkan dinamika bisnis di bawah holding ultra-mikro BRI. Pegadaian diuntungkan tren harga emas yang tinggi, sementara PNM dan Bank Raya masih harus beradaptasi dengan efisiensi biaya di tengah ekspansi bisnis masing-masing.

Follow www.jabarklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: keuangan.kontan.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks