Pencarian

Rupiah Menguat 0,49% ke Rp 17.810 per Dolar AS, Yen dan Won Kompak Tertekan

Senin, 10 Agustus 2026 • 09:57:31 WIB
Rupiah Menguat 0,49% ke Rp 17.810 per Dolar AS, Yen dan Won Kompak Tertekan
Rupiah menguat 0,49% ke posisi Rp 17.810 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Asia, menandai level terkuat dalam sepekan terakhir.

JAWA BARAT — Penguatan rupiah pagi ini menandai pembalikan arah setelah beberapa sesi sebelumnya dolar AS mendominasi pasar keuangan regional. Berdasarkan data Bloomberg, depresiasi dolar AS terhadap rupiah tercatat sebesar 0,49%, membawa kurs ke posisi Rp 17.810. Angka ini menjadi level terkuat rupiah dalam sepekan terakhir, memberikan angin segar bagi pasar domestik yang tengah mencermati arus modal asing.

Dolar Stagnan di Asia, Tekanan Justru Terjadi di Jepang dan Korea

Meski melemah terhadap rupiah, pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama lainnya cenderung stagnan. Dolar AS tercatat flat terhadap dolar Kanada, franc Swiss, dan dolar Hong Kong pada pembukaan perdagangan Asia. Kondisi ini mengindikasikan pasar sedang menunggu katalis baru dari data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis pekan ini.

Situasi berbeda terjadi di kawasan Asia Timur. Dolar AS tercatat menguat 0,50% terhadap yen Jepang, menandakan tekanan masih berlanjut pada mata uang Negeri Sakura. Lebih dramatis lagi, dolar AS melesat 8,24% terhadap won Korea. Pelemahan won yang tajam ini biasanya menjadi perhatian pelaku pasar regional karena dapat memicu aksi kompetitif depresiasi mata uang di Asia.

Sentimen Pasar dan Dampaknya bagi Investor Domestik

Penguatan rupiah di tengah gejolak won dan yen memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dipandang lebih solid dibandingkan beberapa negara peers di Asia. Bagi investor, pergerakan ini berpotensi meningkatkan minat pada aset berdenominasi rupiah, terutama obligasi pemerintah yang selama ini menjadi primadona investor asing.

Namun, pelaku pasar tetap diingatkan untuk mencermati volatilitas global. Sikap bank sentral AS (The Fed) terkait suku bunga masih menjadi variabel utama yang menentukan arah dolar AS ke depan. Jika The Fed kembali menunjukkan sikap hawkish, tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, bisa kembali menguat.

Dari sisi domestik, pelaku pasar juga akan memantau data neraca perdagangan dan cadangan devisa yang biasanya dirilis pada pertengahan bulan. Data-data tersebut akan menjadi indikator ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

(hrp/fdl)

Follow www.jabarklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks