CIREBON — Ratusan anak dari empat daerah di Jawa Barat itu mulai mengisi empat gedung asrama dengan total 544 tempat tidur di Blok Silayur, Kelurahan Kaliwadas, Kecamatan Sumber. Para siswa menjalani registrasi dan proses penyerahan dari orang tua sebelum akhirnya mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Jumat (31/7/2026).
Program ini menyasar anak-anak yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Berbeda dengan sekolah umum, penerimaan peserta tidak melalui jalur pendaftaran terbuka, melainkan berdasarkan pendataan pemerintah.
Dari Mana Saja 540 Siswa Itu?
Sebanyak 270 siswa berasal dari Kabupaten Cirebon. Sisanya merupakan anak-anak dari Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan yang untuk sementara waktu bersekolah di Cirebon karena fasilitas serupa di daerah asal mereka belum beroperasi.
Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman menjelaskan, skema ini bersifat sementara. Nantinya para siswa dapat kembali bersekolah di daerah masing-masing setelah Sekolah Rakyat di wilayah asal telah tersedia.
Fasilitas yang Sudah dan Masih Dibangun
Kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi Cirebon sudah memiliki 12 ruang kelas, enam laboratorium, ruang makan berkapasitas 576 orang, masjid, jaringan internet, layanan air bersih, listrik, hingga sistem keamanan. Namun, penyelesaian sejumlah bangunan masih berlangsung bertahap.
Tahap awal pembangunan difokuskan pada gedung SMP, ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan ruang kepala sekolah. Sementara gedung SD, SMA, sebagian asrama, aula serbaguna, serta ruang makan ditargetkan rampung hingga Agustus 2026.
Pemerintah juga mempercepat penyediaan layanan pendukung seperti layanan kesehatan, pengelolaan sampah, sarana olahraga, dan fasilitas literasi. Sebelumnya, jadwal operasional sempat disesuaikan karena pemerintah ingin memastikan seluruh fasilitas aman sebelum ditempati siswa.
Tenaga Pendidik Sudah Disiapkan
Pemerintah telah menyiapkan tenaga pendidik melalui proses seleksi nasional. Sementara itu, pemerintah daerah sebelumnya menyiapkan guru sementara agar kegiatan belajar mengajar bisa langsung berjalan sejak para siswa menempati asrama.
Seluruh peserta dibagi ke dalam 18 rombongan belajar yang mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA. Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari kelengkapan fasilitas, tetapi juga dari sejauh mana mampu menghadirkan kesempatan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.