SUKABUMI — Puluhan warga Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya tampak antre di tenda darurat yang didirikan di tengah puing-puing sisa kebakaran. Mereka bukan sekadar mencari obat, melainkan juga menenangkan diri setelah peristiwa yang merenggut tempat tinggal dan sumber pangan mereka enam hari lalu.
Direktur RSUD Sekarwangi, dr. H. Asep Suherman, M.Kes., memimpin langsung rombongan yang terdiri atas dokter, perawat, dan jajaran manajemen rumah sakit. Mereka datang dengan dua misi sekaligus: memulihkan kondisi fisik warga dan meringankan beban ekonomi yang sedang terpuruk.
Keluhan Batuk Akibat Asap hingga Trauma Kehilangan Rumah
Di bawah tenda darurat, para tenaga kesehatan memeriksa warga satu per satu. Keluhan yang paling banyak muncul adalah gangguan pernapasan akibat menghirup asap tebal saat kebakaran berlangsung. Namun, tidak sedikit pula warga yang menunjukkan gejala trauma psikologis karena kehilangan harta benda dan rumah mereka.
"Kami hadir untuk memberikan dukungan kepada masyarakat, baik melalui pelayanan kesehatan maupun bantuan sosial. Semoga apa yang kami berikan dapat membantu meringankan beban warga dan memberikan semangat untuk bangkit kembali," ujar Asep di lokasi kejadian, Jumat (31/7/2026).
Menurut Asep, pemeriksaan dini menjadi langkah krusial dalam masa pemulihan pascabencana. Jika keluhan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dibiarkan, dikhawatirkan akan berkembang menjadi masalah yang lebih serius di tengah kondisi tempat tinggal darurat.
Bukan Sekadar Materi: Lumbung Padi dan Identitas Budaya yang Hangus
Kebakaran yang melanda pada Sabtu (25/7/2026) tidak hanya menghanguskan bangunan fisik. Lumbung padi yang menjadi jantung ketahanan pangan masyarakat adat Kasepuhan Ciptamulya ikut menjadi abu. Bagi komunitas ini, lumbung bukan sekadar gudang penyimpanan, melainkan simbol kemandirian dan warisan leluhur yang dijaga turun-temurun.
Kehilangan tersebut menempatkan warga pada posisi yang sangat rentan. Selain kehilangan tempat berteduh, mereka juga kehilangan cadangan makanan yang biasanya bertahan hingga musim panen berikutnya. Fasilitas umum dan tempat ibadah yang hangus menambah daftar panjang kerugian yang harus dipulihkan.
Solidaritas sebagai Penguat Pemulihan Pasca Bencana
Bakti sosial yang dilakukan RSUD Sekarwangi ini menjadi penanda bahwa proses pemulihan tidak bisa berjalan sendiri. Di tengah keterbatasan, kehadiran pihak eksternal membantu meringankan beban logistik dan kesehatan yang biasanya menjadi persoalan pertama setelah bencana.
Melalui kegiatan kemanusiaan ini, RSUD Sekarwangi ingin memastikan bahwa masyarakat terdampak tidak merasa sendirian. Ada tangan yang terulur, ada kepedulian yang nyata. Di balik paket sembako serta pemeriksaan kesehatan yang diberikan, terselip pesan bahwa solidaritas adalah bagian penting dari upaya mengobati luka pascabencana.
Hingga berita ini diturunkan, warga Kampung Adat Ciptamulya masih bertahan di lokasi pengungsian dan mulai merencanakan pembangunan kembali rumah serta lumbung padi mereka. Bantuan lanjutan dari pemerintah daerah dan pihak swasta masih dinantikan untuk mempercepat proses rehabilitasi kawasan adat tersebut.