GARUT — Ratusan warga Kelurahan Lebakjaya, Kecamatan Karangpawitan, mengikuti Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) yang digagas Pemerintah Kabupaten Garut bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Komisi V DPR RI. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi yang mengancam wilayah selatan Jawa Barat.
Bukan Menakut-nakuti, tapi Membangun Kesiapsiagaan
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menegaskan bahwa edukasi kebencanaan tidak boleh memicu kepanikan. Ia menyebut pemerintah telah menyiapkan sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko.
"Di masyarakat dipahamkan bahwa kita adalah salah satu daerah yang berpotensi menghadapi bencana gempa bumi. Ini dipahamkan, tetapi tidak usah panik berlebihan karena pemerintah sudah menyiapkan Earthquake Early Warning System (EEWS) atau Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi," ujar Bupati Garut.
Simulasi Evakuasi hingga Pengenalan Aplikasi Peringatan Dini
Dalam sesi pelatihan, peserta tidak hanya mendapat teori. Mereka diajak mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan: teknik berlindung di bawah meja, proses evakuasi terstruktur, hingga berkumpul di titik aman yang telah ditentukan. Warga juga diperkenalkan dengan aplikasi InfoBMKG yang menyajikan data gempa, cuaca, dan potensi tsunami secara real-time.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi menekankan bahwa mitigasi membutuhkan sinergi antara BMKG, pemerintah daerah, dan BPBD. Menurutnya, informasi peringatan dini harus segera ditindaklanjuti oleh masyarakat.
"Kita bukan memberikan ketakutan atau kepanikan, melainkan membangun kesiapsiagaan bersama teman-teman BPBD. Melalui Sekolah Lapang Gempabumi ini, kami berharap masyarakat akan lebih paham dalam menyikapi bencana demi mewujudkan Keluarga Cerdas Bencana," pungkas Suaidi.
DPR Dorong Perluasan Pemasangan Alat Deteksi Gempa
Anggota Komisi V DPR RI Ade Ginanjar menyebut program ini sebagai upaya nyata memperluas literasi kebencanaan. Ia mendorong penambahan alat pemantau gempa dan pemasangan EEWS di wilayah-wilayah prioritas di Garut.
"Bencana itu tidak ada yang tahu kapan datangnya. Namun, dengan alat yang diupayakan oleh BMKG ini, potensi dampak risiko bencana bisa ditanggulangi sedikit presentasenya. Melalui kegiatan ini, ketika ada pemberitahuan dari sistem, masyarakat sudah tahu bagaimana dia harus menyikapinya," kata Ade.
Bupati menambahkan, kesiapsiagaan merupakan bentuk ikhtiar untuk mengurangi risiko bencana. Ia mengingatkan bahwa usaha mitigasi harus berjalan beriringan dengan kewaspadaan warga secara mandiri.