BANDUNG — Gelombang investasi industri yang masuk ke Jawa Barat membawa konsekuensi besar bagi calon pekerja. Disperindag Jabar memetakan kebutuhan keterampilan baru agar tenaga kerja lokal tidak sekadar menjadi penonton di proyeknya sendiri.
Nining menjelaskan, meski kebutuhan pekerja manusia masih tinggi, industri kini mulai mendatangkan mesin semi otomatis untuk mengejar presisi dan kualitas produk. Kondisi ini mengubah standar kompetensi dasar pekerja, termasuk di sektor yang selama ini mengandalkan keahlian manual.
Perubahan paling nyata terlihat pada lini produksi padat karya. Nining memberi contoh, seorang operator jahit tidak lagi cukup hanya terampil menjahit, tetapi juga dituntut mampu mengoperasikan teknologi mesin yang digunakan perusahaannya.
“Namun, untuk memberikan presisi dan kualitas produk yang lebih baik, mesin-mesin semi otomatis didatangkan. Sebagai contoh, meskipun posisinya sebagai operator jahit, pekerja tersebut tetap dituntut untuk menguasai teknologi mesin yang akan dioperasikan,” ujarnya saat dihubungi awak media, Rabu (13/8/2026).
Untuk menjembatani kesenjangan keterampilan itu, Pemprov Jabar menyiapkan tenaga kerja sejak investasi mulai masuk. Kebutuhan pekerja dipetakan dan disesuaikan dengan modul pelatihan yang tersedia, baik untuk calon pekerja maupun mereka yang sudah bekerja di industri.
Program peningkatan kemampuan tersebut tidak berjalan sendiri. Pemprov Jabar menggandeng Balai Diklat Industri, BPSDMI Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Ketenagakerjaan untuk merancang pelatihan yang relevan dengan kebutuhan riil perusahaan.
Kerja sama itu mencakup penyesuaian kurikulum, pelatihan guru, program magang, hingga peningkatan kualitas praktik kerja lapangan. Hingga 2026, tercatat 740 kemitraan antara SMK dan dunia usaha serta dunia industri telah terjalin di Jawa Barat.
Selain pelatihan, Pemprov Jabar mengoperasikan platform digital bernama Nyari Gawe. Layanan ini dirancang untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan secara lebih efisien, sekaligus membantu industri mendapatkan pekerja sesuai spesifikasi yang dibutuhkan.
Nining menambahkan, pemerintah tidak hanya mengejar serapan tenaga kerja, tetapi juga memastikan investasi memberikan efek berkelanjutan bagi ekosistem usaha lokal. Dengan skema ini, diharapkan pertumbuhan industri sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Jabar.