JAWA BARAT — Danantara menyatakan dukungan terhadap rencana PT Kereta Api Indonesia mengimpor KRL bekas dari Jepang guna memenuhi kebutuhan armada Jabodetabek yang terus meningkat. Dukungan itu disampaikan setelah KAI mengusulkan pengadaan 23 trainset bukan baru ke Komisi VI DPR. Pertemuan antara Danantara dan Direktur Utama KAI dijadwalkan pekan depan untuk membahas jumlah unit yang dibutuhkan.
Dukungan tersebut disampaikan Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, di Hotel Kempinski Jakarta. Menurutnya, penguatan transportasi publik lewat penambahan armada kereta dapat menekan konsumsi bahan bakar, mengurangi polusi, hingga mendorong terbentuknya pusat-pusat kota baru.
"Apa yang sedang dijajaki oleh KAI, kami mendukung selama itu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pada dasarnya tentu kita mendukung apapun yang dibutuhkan dalam langkah percepatan transportasi kita," ujar Dony.
Pertemuan Danantara dan KAI Dibahas Pekan Depan
Dony menyebut pihaknya akan menggelar pertemuan dengan Direktur Utama KAI untuk membahas besaran kebutuhan armada. Pertemuan dijadwalkan berlangsung pekan depan.
"Tinggal nanti kita bisa dengan Dirut KAI berapa banyak yang dibutuhkan oleh KAI untuk memenuhi kebutuhan daripada masyarakat kita," katanya.
Sebelumnya, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengusulkan impor KRL bukan baru dari Jepang saat rapat dengan Komisi VI DPR. Usulan itu disetujui. KAI menyatakan membutuhkan tambahan 23 trainset untuk operasional KRL Jabodetabek.
Rincian 23 Trainset: 7 SF12 dan 16 SF8
Kebutuhan armada itu dibagi dalam dua formasi. Sebanyak 7 trainset berformasi 12 kereta (SF12), sementara 16 trainset lainnya berformasi delapan kereta (SF8).
- 7 trainset formasi SF12 (12 kereta per rangkaian)
- 16 trainset formasi SF8 (8 kereta per rangkaian)
- Total kebutuhan: 23 trainset untuk KRL Jabodetabek
- Pertumbuhan penumpang semester I-2026: 11,3% year-on-year
Perbedaan formasi disesuaikan dengan kondisi infrastruktur di masing-masing lintas. Bobby menjelaskan sejumlah stasiun belum memiliki peron yang mampu mengakomodasi rangkaian SF12.
Lonjakan Penumpang Jadi Pemicu Utama
Kebutuhan tambahan armada muncul seiring kenaikan jumlah pengguna KRL Jabodetabek. Menurut Bobby, penumpang pada semester I-2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka itu menunjukkan tekanan permintaan yang semakin besar pada layanan KRL, sementara kapasitas armada existing dinilai belum cukup menampung pertumbuhan. Pengadaan KRL bukan baru dari Jepang dipandang sebagai jalan cepat untuk menutup selisih kapasitas tersebut.
Apa Artinya bagi Pengguna KRL Jabodetabek
Jika realisasi impor berjalan sesuai rencana, penambahan 23 trainset berpotensi memperbaiki frekuensi perjalanan dan mengurangi kepadatan di jam sibuk. Namun timeline pengadaan belum dipastikan karena masih menunggu hasil pembahasan teknis antara Danantara dan KAI.
Bagi pelaku industri transportasi, keputusan ini juga menjadi sinyal bahwa pemerintah memprioritaskan percepatan penyediaan armada ketimbang menunggu pengadaan kereta baru yang umumnya butuh waktu produksi lebih panjang.