JAWA BARAT — Pelatih timnas Jerman, Jürgen Klopp, mengecam keras debat di media sosial yang mempertanyakan apakah skuad yang tengah ia bangun "cukup putih". Ia menyebut perdebatan itu sebagai omong kosong dan kebodohan yang tak layak diberi ruang. Pernyataan itu muncul menjelang laga Nations League melawan Serbia.
Klopp merespons dengan nada muak saat diminta menanggapi perdebatan yang menyoal apakah tim nasional Jerman "tidak cukup Jerman" atau "tidak cukup putih". Ia menegaskan tidak ada alasan sama sekali untuk memperhatikan orang-orang yang melontarkan narasi tersebut.
"Tidak ada alasan sama sekali untuk memperhatikan orang-orang ini. Anda tidak akan mendapat pendapat saya soal ini. Saya punya sedikit waktu dalam keseharian untuk kebodohan, dan bahkan lebih sedikit lagi di media sosial," kata Klopp.
Klopp Sebut Kebebasan Berpendapat Bisa Jadi Gila
Pelatih berkontrak hingga Piala Dunia 2030 itu menyoroti sisi gelap kebebasan berpendapat yang tanpa batas. Menurutnya, ada situasi ketika kebebasan itu justru berubah menjadi sesuatu yang tidak masuk akal.
"Masalah besar dalam hidup kita adalah semua orang diperbolehkan menyampaikan pendapatnya. Itu menjadi gila ketika hal seperti itu ada," ujarnya.
Klopp menilai ruang ganti olahraga bisa menjadi contoh bagaimana rasa saling menghormati masih mungkin terjaga. Ia menyebut dunia bisa belajar banyak dari cara para atlet berinteraksi satu sama lain.
"Dunia bisa belajar satu atau dua hal dari ruang ganti olahraga. Di sana, semua orang dihormati berdasarkan fakta, bukan didiskreditkan berdasarkan opini palsu," kata Klopp.
Skuad Jerman Disebut Terbaik dalam Hal Persatuan
Klopp menegaskan para pemain yang ia kumpulkan di pemusatan latihan timnas, termasuk sejumlah pemain berlatar belakang migran, tidak bisa lebih bersatu lagi dari kondisi saat ini. Ia menilai kekompakan skuad justru menjadi kekuatan utama.
Serangan komentar rasis dan ofensif di media sosial muncul setelah Jerman kalah 1-0 dari Yunani pada laga Nations League pekan lalu. Kekalahan itu mencatatkan sejarah buruk karena menjadi kali pertama Yunani mengalahkan Jerman.
Narasi Rasial Senada dengan Partai AfD
Gelombang komentar tersebut sejalan dengan pernyataan sejumlah anggota parlemen dari Alternative für Deutschland (AfD), partai oposisi terbesar di Bundestag. AfD berulang kali mengkritik keberagaman dan komposisi etnis timnas Jerman.
Partai itu kerap menyebut skuad Jerman dengan istilah merendahkan, seperti "pasukan bayaran yang berpura-pura benar secara politik". Narasi semacam itu terus muncul meski skuad Jerman dihuni pemain dari berbagai latar belakang.
Klopp menyampaikan pernyataannya sebelum Jerman menghadapi Serbia pada laga Nations League. Laga itu menjadi kesempatan bagi Jerman untuk bangkit setelah kekalahan dari Yunani.