Pencarian

Blue Tourism 2045, Strategi Kelola Laut Indonesia Jadi Destinasi Berkelanjutan

Minggu, 27 September 2026 • 10:39:31 WIB
Blue Tourism 2045, Strategi Kelola Laut Indonesia Jadi Destinasi Berkelanjutan
Gagasan Blue Tourism 2045 menempatkan laut sebagai subjek utama pariwisata Indonesia.

JAWA BARAT — Gagasan Blue Tourism 2045 menempatkan laut sebagai subjek utama pariwisata Indonesia, bukan sekadar objek yang dijual demi kunjungan massal. Pendekatan ini menekankan wisata berbasis alam, konservasi, dan ilmu pengetahuan yang berangkat dari daya dukung ekologis. Wacana ini mengemuka bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia 2026 yang mengangkat tema digital dan kecerdasan buatan.

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, garis pantai sekitar 108.000 kilometer, dan posisi sebagai pusat Coral Triangle. Modal alam sebesar itu menuntut pendekatan pengelolaan yang lebih bernilai bagi masyarakat pesisir, bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan.

Gagasan Blue Tourism 2045 disusun Ahmad Bahar, dosen Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin yang juga pakar pariwisata bahari. Ia menilai Indonesia tidak kekurangan laut untuk dijual sebagai destinasi. Yang kurang adalah keberanian mengubah cara mengelola sumber daya tersebut.

Peringatan Hari Pariwisata Dunia 2026 mengusung tema "Digital Agenda and Artificial Intelligence to Redesign Tourism". Tema itu relevan bagi Indonesia, terutama untuk menjawab pertanyaan seputar kapasitas destinasi dan tekanan terhadap ekosistem.

Mengapa Paradigma Wisata Massal Perlu Ditinggalkan

Blue Tourism 2045 berangkat dari pergeseran paradigma: dari wisata massal menuju nature tourism, ecotourism, conservation tourism, dan scientific tourism. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan selera wisatawan.

Tekanan terhadap destinasi sudah nyata. Overtourism, degradasi ekosistem, sampah laut, konflik pemanfaatan ruang, dan penurunan kualitas lingkungan membuat asumsi "semakin banyak wisatawan semakin baik" tidak lagi memadai.

Contoh paling aktual ada di Taman Nasional Komodo. Pemerintah membatasi kunjungan maksimal 1.000 orang per hari di sejumlah destinasi utama, termasuk Pulau Padar, Rinca, Komodo, dan lokasi penyelaman. Kebijakan itu diambil dengan pertimbangan daya dukung dan keberlanjutan ekosistem.

Sampah dan Terumbu Karang yang Terus Tertekan

Di Pulau Derawan, destinasi penyelaman yang menjadi ikon wisata bahari Indonesia, tekanan sampah menjadi persoalan serius. Sampah berasal dari aktivitas masyarakat dan pariwisata setempat, sekaligus terbawa arus laut dari wilayah lain.

Penelitian terbaru di Sabang menunjukkan pengelolaan sampah plastik di pulau-pulau kecil membutuhkan pendekatan berbasis masyarakat dan multipihak. Tanpa keterlibatan warga, penanganan sampah tidak akan bertahan lama.

Ancaman terhadap terumbu karang bahkan tidak selalu terlihat mata. Penelitian terhadap ratusan penyelam di Indonesia dan Filipina menemukan kontak penyelam dengan terumbu rata-rata terjadi sekitar sekali setiap empat menit. Lebih dari 40 persen kontak yang diamati menimbulkan kerusakan yang terlihat.

Perubahan iklim memperbesar tekanan tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan terumbu karang Indonesia punya tingkat ketahanan tertentu terhadap kenaikan suhu laut, tetapi ketahanan itu memiliki batas.

Oseanografi sebagai Fondasi Perencanaan

Blue Tourism 2045 menempatkan ilmu oseanografi di jantung perencanaan pariwisata bahari. Gelombang, arus, pasang surut, suhu, kedalaman, kecerahan, kualitas air, hingga dinamika biota bukan sekadar data akademik.

Semua variabel itu menentukan kesesuaian lokasi, keselamatan wisatawan, kenyamanan, kapasitas kunjungan, bahkan jenis aktivitas wisata yang bisa dikembangkan. Objek wisata bahari terbentuk oleh dinamika laut, sekaligus ditentukan olehnya.

Peran AI: Mengendalikan, Bukan Mempercepat Overtourism

Tema Hari Pariwisata Dunia 2026 membuka peluang baru. Indonesia dapat memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun smart marine tourism: memprediksi gelombang dan cuaca, memantau kualitas perairan, memetakan biodiversitas, menghitung kepadatan wisatawan, serta mendeteksi tekanan terhadap ekosistem.

Gagasan digital twin destination dapat dikembangkan untuk membuat model virtual destinasi yang menggabungkan data oseanografi, lingkungan, wisatawan, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi. Model ini memungkinkan pengelola menguji skenario sebelum kebijakan diterapkan di lapangan.

AI tidak boleh hanya menjadi mesin promosi yang mengarahkan jutaan wisatawan ke tempat yang sama. Algoritma justru harus dipakai untuk mendistribusikan kunjungan dan memberi peringatan ketika daya dukung sebuah destinasi terlampaui.

Apa Artinya bagi Wisatawan

Bagi traveler yang merencanakan liburan bahari, arah kebijakan ini berdampak langsung. Destinasi populer seperti Komodo sudah menerapkan kuota harian, sehingga wisatawan perlu memesan tiket lebih awal dan mematuhi jadwal kunjungan yang ditetapkan.

Pilihan destinasi di luar jalur utama akan semakin relevan. Pulau-pulau kecil dengan ekosistem terjaga menawarkan pengalaman menyelam dan snorkeling yang tidak kalah, dengan tekanan kunjungan lebih rendah.

Wisatawan juga perlu memahami etika menyelam, terutama menjaga jarak dari terumbu karang. Data kontak penyelam dengan terumbu menunjukkan perilaku individu berdampak langsung pada kesehatan ekosistem yang jadi alasan utama mereka datang.

Informasi terkini soal kuota kunjungan, tarif masuk, dan jam operasional destinasi bahari dapat dikonfirmasi melalui dinas pariwisata setempat atau pengelola taman nasional. Blue Tourism 2045 menegaskan satu hal: laut yang sehat adalah prasyarat pariwisata bahari yang berkelanjutan.

Follow www.jabarklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pelakita.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks