JAWA BARAT — Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan stok beras premium di jaringan ritel modern sudah mencukupi setelah Perum Bulog menyalurkan pasokan besar-besaran ke pasar. Klaim itu muncul di tengah laporan kekosongan beras kemasan 5 kilogram di sejumlah minimarket dan harga rata-rata nasional yang masih 5,23 persen di atas HET.
Perum Bulog mencatat hampir 60 ribu ton beras premium telah digelontorkan ke pasar dalam waktu sekitar dua minggu, termasuk melalui gerai Alfamart dan Indomaret. Penyaluran itu merupakan bagian dari target pemerintah sebesar 300 ribu ton beras premium untuk menstabilkan pasokan di ritel modern.
Budi menyampaikan pernyataan tersebut di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Selasa (6/10). Ia menanggapi laporan yang menyebut beras premium kemasan 5 kg masih kosong di sejumlah gerai ritel.
"Kan sekarang sudah diisi oleh Bulog di ritel modern. Saya pikir enggak ada masalah, stoknya cukup," kata Budi.
Berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga rata-rata nasional beras premium pada 29 September mencapai Rp15.680 per kg. Angka itu 5,23 persen di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp14.900 per kg, atau setara Rp74.500 untuk kemasan 5 kg.
Pantauan di lapangan sebelumnya menemukan stok berbagai merek beras premium 5 kg kosong di salah satu Alfamart Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, selama sekitar dua bulan. Kondisi serupa terjadi di Indomaret di kawasan yang sama dengan kekosongan lebih dari satu bulan.
Di Superindo Jatibening, stok beras premium 5 kg tersedia terbatas, sekitar 15 karung, dengan pilihan merek yang terbatas. Pegawai ritel menyebut sebagian merek ditarik pemerintah terkait temuan ketidaksesuaian klaim fortifikasi.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan 12 dari 25 merek beras fortifikasi yang diduga bermasalah telah ditarik dari peredaran. Temuan itu mencakup 25 merek milik 11 pelaku usaha, dan seluruh merek yang masuk dalam temuan telah menghentikan produksi hingga pekan pertama September 2026.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani membantah anggapan beras premium masih langka di jaringan ritel modern. Bulog juga telah menandatangani perjanjian dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk memasok beras ke jaringan ritel modern.
Untuk memenuhi target 300 ribu ton, Bulog melibatkan sekitar 868 penggilingan padi yang mampu memproduksi beras premium, mulai dari penggilingan kecil hingga perusahaan besar. Sebanyak 110 ribu ton beras disebut telah disalurkan hingga 5 September.
Rizal menegaskan beras premium yang disalurkan Bulog merupakan beras komersial dan bukan beras program stabilisasi yang mendapatkan subsidi pemerintah.
"Yang namanya beras premium itu tidak ada subsidi, ya," ujarnya.
Budi menilai kenaikan harga sejumlah bahan pangan perlu dilihat dengan membandingkannya terhadap harga acuan atau HET, bukan hanya terhadap harga sebelumnya. Pemerintah telah melakukan intervensi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga harga beras.
Ia mencontohkan harga telur yang saat ini sekitar Rp26.200 per kg, masih di bawah harga acuan Rp30 ribu per kg. Meski demikian, harga tersebut memang meningkat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp22 ribu-Rp24 ribu per kg.
"Kita mau melihat kenaikan dari harga kemarin atau dari harga HET atau harga acuan. Jadi kalau kita memang beras ada sedikit kenaikan. Dan itu kan sudah dilakukan intervensi dari Bulog ya pakai SPHP," kata Budi.
Menurut Budi, harga acuan juga perlu mempertimbangkan keberlangsungan produksi peternak sekaligus daya beli konsumen. Harga telur yang terlalu rendah dapat membuat peternak kesulitan menutup biaya produksi, terutama pembelian pakan.
"Ketika mendekati Rp30 ribu itu sebenarnya harga yang ideal. Artinya, harga pertemuan antara produsen dan konsumen," ujarnya.
Pemerintah menentukan harga dengan memperhitungkan sejumlah komponen, mulai dari biaya produksi hingga distribusi. Dengan perhitungan tersebut, harga acuan diharapkan tetap memungkinkan produsen menjalankan usaha tanpa membuat harga terlalu tinggi bagi konsumen.