JAWA BARAT — Qualcomm memperkenalkan jajaran chipset Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6, Snapdragon 8 Elite Gen 6, dan Snapdragon X2 Series dalam ajang Snapdragon Partners & Media Event Indonesia 2026 di Jakarta. Ketiga lini chipset itu diposisikan untuk mengakomodasi era Agentic AI, baik di smartphone premium maupun PC. Snapdragon X2 Series diklaim menaikkan performa hingga 67% dengan konsumsi daya lebih hemat 43% dibanding generasi sebelumnya.
Vice President Qualcomm Technologies sekaligus President Qualcomm Southeast Asia, Australia and New Zealand, ST Liew, menyatakan perluasan Snapdragon ke berbagai kategori komputasi membuka peluang baru bagi perusahaan dan mitranya. Pernyataan itu disampaikan dalam gelaran yang mempertemukan mitra perangkat, merek, dan pengembang ekosistem di Jakarta.
Qualcomm menekankan pendekatan system-level pada seluruh lini produk terbarunya. CPU, GPU, NPU, sistem sensor, konektivitas, dan memori diintegrasikan secara bersamaan agar Agentic AI pada perangkat dapat bekerja lebih personal, responsif, dan peka terhadap konteks kebutuhan pengguna.
Untuk kategori smartphone, Qualcomm menerapkan strategi dual-flagship guna menjawab kebutuhan pasar premium yang beragam. Ada dua varian yang dibedakan berdasarkan tingkat kemampuan pemrosesan AI dan fokus penggunaan.
Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6 menjadi varian tertinggi yang difokuskan untuk pemrosesan Agentic AI tingkat lanjut. Chipset ini mampu mengolah teks, suara, dan gambar secara langsung di dalam perangkat (on-device). Dukungan CPU Qualcomm Oryon generasi terbaru dan teknologi Adreno Neural Fusion membuatnya menyajikan grafik gaming berbasis AI serta pengalaman kreasi konten tingkat tinggi.
Sementara Snapdragon 8 Elite Gen 6 dirancang memberikan keseimbangan antara performa pemrosesan AI, kemampuan fotografi, dan efisiensi daya. Varian ini menyasar lebih banyak perangkat flagship, bukan hanya model tertinggi.
Di lini komputasi, Snapdragon X2 Series membawa peningkatan performa hingga 67% dibanding generasi sebelumnya. Konsumsi dayanya justru lebih hemat hingga 43%, klaim yang penting bagi segmen laptop premium yang bersaing ketat soal masa pakai baterai.
Chipset ini diperkuat GPU Adreno X2 dan NPU berkapasitas 80 TOPS, atau 67% lebih cepat dari generasi sebelumnya. Kombinasi itu memungkinkan PC bertenaga Snapdragon X2 menjalankan model Agentic AI secara mandiri dan langsung di perangkat, tanpa bergantung penuh pada cloud.
Ekosistem Snapdragon PC kini mendukung lebih dari 7.300 aplikasi dan 3.000 game. Qualcomm juga memperkenalkan seri Snapdragon C untuk laptop kelas entry-level, serta menyambut kehadiran perangkat Googlebook ke dalam jajaran PC berbasis Snapdragon.
Selain lini mobile dan PC, Qualcomm memamerkan sejumlah perangkat pendukung berbasis Snapdragon. Ada Ray-Ban Meta Glasses, Meta Quest 3, Bose Headphones dan Earbuds, Lenovo Legion Gaming Tab, hingga Samsung Watch Ultra 2.
Jajaran itu memperlihatkan bahwa Snapdragon tidak lagi hanya soal chipset smartphone. Qualcomm menyasar kategori wearable, audio, hingga perangkat XR sebagai bagian dari strategi komputasi yang terhubung.
Executive Vice President sekaligus Chief Marketing Officer Qualcomm Incorporated, Don McGuire, menegaskan komitmen perusahaan untuk pasar lokal. Ia menyebut teknologi akan memberikan nilai lebih besar ketika mampu menjawab kebutuhan nyata pengguna.
"Teknologi akan memberikan nilai yang lebih besar ketika mampu menjawab kebutuhan nyata. Karena itulah, Qualcomm bekerja sama dengan para pembuat perangkat, merek, kreator, komunitas, dan ecosystem partners untuk menjadikan inovasi Snapdragon lebih relevan dan mudah digunakan oleh konsumen, khususnya di Indonesia," ujar Don McGuire.
ST Liew menambahkan bahwa di era Agentic AI, kebutuhan komputasi menjadi semakin terintegrasi antara perangkat, edge, dan cloud. Pendekatan itu menjadi dasar Qualcomm memperluas portofolio Snapdragon ke lebih banyak kategori perangkat.
Bagi pelaku bisnis digital dan investor, ekspansi Qualcomm ke segmen entry-level lewat Snapdragon C dan masuknya Googlebook menandakan persaingan chipset PC bakal makin ketat di pasar Indonesia. Pengguna smartphone premium bisa menantikan perangkat dengan kemampuan AI on-device yang lebih matang pada siklus rilis berikutnya.