JAWA BARAT — Kehamilan menuntut ibu lebih selektif memilih makanan. Bukan hanya soal nutrisi, tapi juga soal risiko infeksi yang mengintai di balik sajian yang terlihat aman.
Beberapa makanan yang biasa kita konsumsi sehari-hari justru berpotensi membawa bakteri, parasit, atau zat beracun. Berikut daftar yang perlu ibu waspadai.
Steak setengah matang, telur mata sapi yang masih cair, atau adonan kue berbahan telur mentah berisiko membawa bakteri Salmonella dan parasit Toxoplasma.
Pastikan daging dimasak hingga matang sempurna dan telur dikonsumsi dalam keadaan benar-benar matang, bukan setengah jadi.
Ikan berukuran besar seperti hiu, ikan pedang (swordfish), dan makarel raja menyimpan kadar merkuri tinggi. Zat ini bisa merusak sistem saraf janin yang sedang berkembang.
Sebagai gantinya, ibu bisa memilih ikan rendah merkuri seperti salmon, kembung, atau lele yang justru kaya omega-3 untuk perkembangan otak bayi.
Keju lunak dan susu mentah yang belum melewati proses pasturisasi berpotensi mengandung bakteri Listeria. Infeksi ini sangat berbahaya bagi keselamatan janin dan bisa memicu komplikasi serius.
Selalu cek label kemasan. Pilih produk susu dan keju yang mencantumkan "pasteurized" atau "pasturisasi" secara jelas.
Sushi dan sashimi menjadi favorit banyak orang, tapi hidangan laut mentah rentan terpapar parasit Anisakis dan berbagai bakteri pathogen laut.
Jika ingin tetap menikmati seafood, pilih yang sudah dimasak matang sempurna. Hindari juga kerang mentah atau setengah matang.
Konsumsi kopi atau minuman berkafein secara berlebihan disarankan untuk dibatasi selama kehamilan. Pasalnya, kafein dapat meningkatkan risiko berat badan lahir rendah pada bayi.
Batasi asupan kafein harian dan perhatikan sumber lain seperti teh, cokelat, atau minuman energi yang juga mengandung kafein.
Jeroan memang kaya zat besi, tapi organ dalam mengandung Vitamin A jenis retinol dalam jumlah tinggi. Cadangan Vitamin A berlebih dalam tubuh berpotensi menyebabkan kelainan bawaan pada janin.
Konsumsi hati dalam porsi kecil dan tidak terlalu sering. Jangan jadikan jeroan sebagai menu harian selama kehamilan.
Jika ibu sudah terlanjur mengonsumsi salah satu makanan di atas dan muncul gejala seperti demam, mual hebat, diare, atau nyeri perut, segera konsultasi ke dokter kandungan.
Gejala infeksi seperti Toxoplasma atau Listeria kadang tidak langsung muncul. Pemeriksaan dini membantu memastikan kondisi ibu dan janin tetap aman.
Menjaga pola makan selama kehamilan bukan berarti membatasi diri secara berlebihan. Kuncinya adalah memilih bahan yang segar, mengolahnya dengan benar, dan memasaknya hingga matang.
Dengan lebih teliti membaca label dan memperhatikan cara pengolahan, ibu bisa menikmati makanan favorit tanpa mengorbankan kesehatan janin. Kehamilan yang sehat dimulai dari pilihan makanan yang tepat setiap hari.