Kimia Farma (KAEF) Berbalik Untung, Cetak Laba Bersih Rp 54 Miliar di Semester I-2026

Penulis: Agus Hermawan  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:00:01 WIB
Laba bersih Kimia Farma (KAEF) tercatat Rp 54 miliar pada semester I-2026, berbalik dari rugi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

JAWA BARAT — Efisiensi Operasional Mulai Terasa

Laba usaha Kimia Farma melonjak 111,3 persen secara tahunan menjadi Rp 152,21 miliar pada paruh pertama tahun ini. Angka tersebut membaik signifikan dibandingkan realisasi Rp 72,01 miliar pada semester I-2025.

Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, menegaskan bahwa perbaikan ini bukan kebetulan. “KAEF dengan dukungan dan arahan Danantara terus memperkuat fondasi bisnis melalui pengelolaan portofolio, efisiensi operasional, penguatan produksi, dan perbaikan tata kelola,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).

Salah satu indikator keberhasilan efisiensi terlihat dari rasio beban usaha terhadap penjualan yang turun dari 34,2 persen menjadi 33,2 persen. Artinya, pengendalian biaya mulai berdampak nyata pada struktur operasional perseroan.

Tekanan Geopolitik dan Strategi Antisipasi

Meski kinerja membaik, manajemen tidak menutup mata terhadap tantangan. Dinamika geopolitik di Timur Tengah pada kuartal II-2026 masih membebani perseroan, terutama melalui lonjakan harga bahan baku dan bahan kemas yang sebagian besar masih diimpor.

Untuk meredam dampak tersebut, Kimia Farma menjalankan program efisiensi lanjutan, pengendalian biaya ketat, dan penyesuaian harga secara terukur pada sejumlah produk. Langkah ini diambil agar pasokan tetap aman, kualitas produk terjaga, dan margin keuntungan tidak tergerus.

Menguatkan Kemandirian Bahan Baku Obat

Di sisi hulu, perseroan gencar mengurangi ketergantungan pada impor. Fasilitas produksi di Jakarta dan Banjaran kini dioptimalkan sebagai tulang punggung pembuatan 50 produk utama, termasuk obat esensial seperti Amlodipine, Codeine, Morfina, dan Abacavir.

Peran anak usaha pun diperkuat. Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) telah mengantongi sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM untuk 19 bahan baku obat (BBO). Dari jumlah itu, 18 di antaranya juga telah tersertifikasi halal oleh BPJPH.

Sementara itu, PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL) terus dikembangkan untuk mendukung program lokalisasi produk prioritas pemerintah yang selama ini masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Jaringan Layanan yang Semakin Luas

Kekuatan hilir Kimia Farma juga menjadi modal penting. Hingga Juni 2026, perseroan mengoperasikan lebih dari 1.000 apotek, 350 klinik, dan 60 laboratorium yang tersebar di seluruh Indonesia.

Jaringan ini tidak hanya menjadi mesin pendapatan, tetapi juga ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan fundamental yang semakin sehat, Kimia Farma disebut memiliki ruang lebih besar untuk mendukung program prioritas nasional di bidang farmasi dan layanan kesehatan.

Transformasi bisnis yang dijalankan perseroan berfokus pada enam pilar utama: ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi sumber daya manusia, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, tata kelola perusahaan yang baik (GCG), serta sinergi antar entitas di lingkungan Kimia Farma Group.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: money.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top