JAWA BARAT — Keputusan politik tertinggi Israel itu disampaikan Netanyahu saat menerima kunjungan Nickolay Mladenov, utusan Dewan Perdamaian untuk Gaza. Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu menegaskan sikapnya secara lugas: "Israel tidak akan menarik diri dari posisi yang dikuasainya di Gaza, dan tidak akan melakukan gencatan senjata."
Sikap ini sekaligus memupus harapan masyarakat internasional terhadap kelanjutan proses perdamaian yang sempat mencuat setelah Trump mengumumkan gencatan senjata fase kedua. Padahal, pengumuman tersebut sebelumnya disambut sebagai titik terang setelah konflik berkepanjangan yang menewaskan ribuan warga sipil Palestina.
Dalam penjelasannya kepada Mladenov, Netanyahu mendasarkan penolakannya pada evaluasi intelijen militer Israel. Ia mengeklaim Hamas telah membangun kembali kemampuan militernya yang dinilai mampu menimbulkan ancaman langsung bagi tentara Israel serta warga yang bermukim di dekat perbatasan Gaza.
Klaim ini menjadi justifikasi utama pemerintah Israel untuk mempertahankan kontrol penuh atas posisi-posisi yang telah direbut selama operasi militer berlangsung. Langkah tersebut menunjukkan bahwa agenda keamanan jangka pendek masih menjadi prioritas utama Tel Aviv dibandingkan kompromi politik.
Penolakan diplomatik ini terjadi di tengah meningkatnya agresi militer Israel di lapangan. Data yang dihimpun menunjukkan dalam sehari setelah Trump mengumumkan gencatan senjata fase kedua, militer Israel justru membunuh 18 warga Gaza. Kondisi ini memicu skeptisisme mendalam di kalangan warga Palestina yang menilai perdamaian hanya sekadar ilusi.
Kebijakan Netanyahu yang kontradiktif antara retorika diplomasi dan aksi militer nyata di lapangan mempertegas bahwa kesepakatan yang ditawarkan Dewan Perdamaian belum mampu menghentikan siklus kekerasan yang berlangsung sejak bertahun-tahun.
Dengan penolakan resmi ini, posisi Dewan Perdamaian pimpinan Trump menghadapi kebuntuan. Upaya mediasi yang dirancang untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah kini terhenti di tengah jalan, sementara Israel menunjukkan keengganan untuk berkompromi pada isu-isu krusial seperti penarikan pasukan dan gencatan senjata permanen.
Belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun Dewan Perdamaian mengenai langkah lanjutan setelah penolakan Netanyahu. Namun, sikap Israel ini dipastikan akan memperumit dinamika politik di kawasan dan menunda harapan rekonstruksi Gaza yang telah lama dinanti penduduk setempat.
Di sisi lain, kelompok-kelompok perlawanan Palestina diperkirakan akan merespons keras kebijakan ini. Situasi di lapangan berpotensi kembali memanas apabila tidak ada terobosan diplomatik baru yang mampu menjembatani kepentingan kedua belah pihak dalam waktu dekat.