JAWA BARAT — Paruh musim kedua MotoGP 2026 dipastikan berlangsung brutal. Setelah 11 Grand Prix, delapan pebalap teratas bahkan masih berada dalam jarak 65 poin, membuat satu kemenangan di akhir pekan bisa langsung mengubah peta perebutan gelar secara drastis. Kondisi ini kontras dengan musim-musim sebelumnya di mana biasanya sudah ada pebalap yang membangun dominasi awal.
Salah satu pendorong utama ketatnya persaingan adalah kebangkitan Marc Marquez. Pebalap Ducati itu sempat kehilangan banyak angka setelah absen di MotoGP Prancis dan Catalunya akibat operasi cedera kaki serta gangguan saraf di bahu kanannya.
Namun sejak kembali di Mugello, performanya berbanding terbalik. Dari total 185 poin yang tersedia, Marquez mengoleksi 133 poin—catatan tertinggi dibanding pebalap lain pada periode yang sama. Ia kini berada dalam jangkauan para pemimpin klasemen.
Cerita lain datang dari Aprilia yang sempat membuka musim meyakinkan lewat Marco Bezzecchi. Sayangnya, rentetan insiden membuat pebalap Italia itu gagal meraih poin dalam empat balapan utama secara beruntun. Alhasil, keunggulan awal pabrikan itu menguap dan persaingan papan atas kembali terbuka lebar.
Kondisi ini mempertegas bahwa konsistensi adalah segalanya di era Sprint Race. Setiap akhir pekan kini menyediakan lebih banyak poin dibanding sebelumnya, sehingga pebalap dituntut tak hanya cepat di balapan utama, tapi juga rutin mengumpulkan angka di Sprint.
Catatan Motosan menyebut situasi musim ini mengingatkan pada MotoGP 2024. Kala itu, Francesco Bagnaia memenangi lebih banyak Grand Prix, tetapi gagal menjadi juara dunia karena kalah konsisten dari Jorge Martin sepanjang musim. Pola yang sama berpotensi terulang jika para penantang hanya mengandalkan kecepatan murni tanpa stabilitas hasil.
Dengan 11 seri tersisa, belum ada pebalap yang mampu menciptakan jarak aman. Selisih tipis di lima besar membuat gelar juara MotoGP 2026 diprediksi baru akan terjawab pada seri-seri pamungkas.