BMKG Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Barat, Targetkan DAS Citarum dan 4 Waduk Strategis saat El Nino

Penulis: Darmawan Putra  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 18:53:31 WIB
BMKG memusatkan operasi penyemaian awan di Bandung untuk menjaga pasokan air di waduk strategis Jawa Barat.

BANDUNG — BMKG memusatkan operasi penyemaian awan di Bandung untuk mengamankan pasokan air di waduk-waduk strategis Jawa Barat. Langkah ini merupakan respons cepat atas potensi gagal panen dan krisis air bersih yang mengintai sepanjang musim kemarau 2026.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyatakan bahwa pengerahan pesawat dan personel dilakukan segera setelah izin operasional dari Panglima TNI turun. Prioritas utama operasi ini adalah memastikan daur ulang air di waduk strategis tetap berjalan normal, khususnya yang terdampak kekeringan akibat El Nino.

Mengapa DAS Citarum Jadi Prioritas Utama?

DAS Citarum dipilih karena menjadi penyangga utama pasokan air bagi jutaan warga di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Bandung Raya. Jika volume air di waduk-waduk seperti Jatiluhur dan Saguling menurun drastis, aliran irigasi pertanian dan air baku PDAM akan terganggu.

"Pengerahan personel, pesawat, dan bahan semai yang berpusat di Bandung dilakukan segera setelah diterbitkan dukungan operasional dari Panglima TNI, dengan tujuan menjaga keandalan pasokan air di waduk-waduk strategis wilayah Jawa Barat," ujar Seto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Mekanisme Penyemaian Awan di Langit Jabar

Metode yang digunakan adalah menyemai garam (NaCl) ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Pesawat Casa 212 Skadron 4 TNI Angkatan Udara diterbangkan untuk menjangkau titik-titik awan strategis di atas daratan Jawa Barat.

Proses ini bertujuan memaksimalkan curah hujan yang turun ke area tangkapan air, bukan sekadar hujan yang jatuh di permukaan tanpa manfaat. Dengan begitu, resapan air ke tanah dan aliran sungai bisa dioptimalkan untuk mengisi kembali waduk.

Sinergi Lintas Lembaga dan Wilayah Sasaran Lainnya

Program ini merupakan kolaborasi antara BMKG, Kementerian Pekerjaan Umum, TNI AU, serta lembaga terkait lainnya. Sinergi ini dibangun untuk meminimalkan dampak sosial dan ekonomi akibat kemarau panjang, mulai dari sektor pertanian hingga ketahanan pangan.

Selain Jawa Barat, operasi serupa telah berjalan di sejumlah wilayah rawan karhutla dan kekeringan lain, seperti Riau, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara. BMKG menilai langkah ini krusial untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat di tengah kondisi iklim yang tidak menentu.

Reporter: Darmawan Putra
Sumber: infobekasi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top