JAWA BARAT — Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM merilis data yang menunjukkan ICP anjlok dari posisi 106,56 dolar AS per barel pada Mei 2026. Penurunan sebesar 22,50 dolar AS per barel ini menjadi indikator utama betapa sensitifnya pasar energi nasional terhadap dinamika politik global.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa faktor utama penurunan harga adalah meredanya tensi konflik di Timur Tengah. "Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar 22,50 dolar AS per barel dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 106,56 dolar AS per barel. Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang cenderung mereda sepanjang Juni," kata Laode di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Gencatan senjata yang disepakati para pihak turut membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap. Pulihnya jalur pelayaran strategis ini membuat distribusi minyak dunia kembali lancar sehingga pasokan global stabil dan harga minyak di pasar internasional bergerak turun.
Dari sisi fundamental pasar, tekanan terhadap harga juga datang dari proyeksi permintaan yang melambat. International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak dunia hanya 1,1 juta barel per hari. Di saat bersamaan, negara-negara anggota OPEC+ kembali meningkatkan produksi mereka.
Rusia turut berencana menambah pasokan minyak untuk memenuhi target kuota OPEC+ pada 2026. Kenaikan pasokan di tengah perlambatan pertumbuhan permintaan semakin menekan harga minyak dunia.
Penurunan harga tidak hanya terjadi pada ICP. Berikut adalah pergerakan rata-rata harga minyak mentah utama dunia pada Juni 2026 dibandingkan bulan sebelumnya:
Pemerintah memproyeksikan ICP pada Juli 2026 berada di kisaran 67 hingga 71 dolar AS per barel. Laode menambahkan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan geopolitik, pasokan, dan permintaan minyak dunia guna menjaga stabilitas harga serta ketahanan energi nasional.